Arsip untukKisah

Mina (Part II)

(Tulisan ini adalah lanjutan note saya sebelumnya yang berjudul “Mina”)

Pada suatu hari, saya berangkat ngaji fiqh sore di masjid, berangkat dari rumah sekitar setengah 4 sore dan bakal pulang jam 5 sore. Tiba2 di jalan dekat masjid ada seorang teman yang emang terkenal suka ngusilin saya, namanya Laswan, sedang naik sepeda bilang,

“Ayammu yang paling kamu sayangi mati. sapa itu namanya, Mimi. Iya Mimi mati. Abis kutabrak”

“Bo ong”, jawab saya cuek

“Beneran. Kalo gak percaya liat aja depan rumahmu pasti banyak bulunya berserakan”, kata Laswan

“Bo ong!!”, saya setengah percaya tuh.

”Liat aja ndiri.. Sukurin…Mimi mati..” Laswan tetap mengejek.

Akhirnya saya lari pulang. Biasanya saya pulang lewat kebun rumah Embah biar cepet, tapi saya waktu itu sengaja lewat jalan untuk memastikan kebenaran pernyataan Laswan. Dan ternyata MEMANG BANYAK BULU AYAM DI PINGGIR JALAN DEPAN RUMAH. Saya ambil beberapa bulu yang jatuh itu. Akhirnya saya lari ke rumah mencari ibu yangsedang duduk2 di ruang tamu bersama bapak.

“Mimi mana??”, Tanya saya dengan penuh emosi.

“Mimi ya di belakang to… udah sore.. udah mau tidur…”, jawab ibu datar tapi kelihatan bo ong.

“Nggak percaya! Mimi mana?? Ini bulu siapa? Tadi di jalan banyak bulu2. Mimi mati kan? Ditabarak Laswan???”, saya ngomong bertubi2 sambil bercucur air mata dan ngangkat2 bulu ayam.

“Enggak sayaang, enggak ditabrak Laswaan..”,kata Ibu.

“Sini2…duduk dulu biar tenang…”, Bapak ikut2an. Saya pun nurut kata Bapak.

“Iya Mimi tadi ketabrak mobil, bukan Laswan. Tadi pas kamu berangkat ke masjid, si ayam2 itu ngikutin kamu sambil lari di belakangmu. Trus ada mobil. Dan ketabrak Miminya…”, jelas Bapak.

“Itu mobil siapaaaa?? Mobil Yu Mustianah ya???”, Tanya saya sambil nangis tersedu2. (Mustianah adalah nama tetangga saya yang diduga kuat pemilik mobil yang menabrak Mimi, red.)

“Ntar aku ke rumah Yu Mustianah, mau marah2in dia!!”, saya nangis sambil marah2..

“Iya2, besok sajaa…sekarang udah mau magrib”, tahan Ibu.

“Trus sekarang mayat Mimi mana?? Sini aku yang ngubur. Aku bikinin kuburan yang bagus banget!!”, saya ngomong teriak2 tapi tetep dalam keadaan nangis.

“Oh, Mimi udah dibuang sama Mbahkung, di kali”, kata ibu.

“aku mau liat!!!”, saya teriak2 mulu

“Ya udah kintir (ikut aliran sungai), udah gak keliatan.”, kata Ibu lagi

“Ah, pasti bo ong, Mimi tadi belum mati trus disembelih kan??? Gak boleh! Mimi harus dikubur!!”, teriak2 lagi -_-

“Enggak, coba tanyain mbahkung ato Lik Wasis. Udah…ikhlasin Mimi ya… kan masih ada tuh temen2nya..”, kata ibu.

“Enggak! Beda. Mimi tuh paling baik!” tetep saja teriak2 sambil bercucur air mata.

“Iya deh, nanti nyari ganti lagi…”, kata Bapak

“Pokoknya aku besok pagi ke rumah Yu Mustianah. Minta tanggung jawab!”, kata saya.

“Eh, orangnya gak tau apa2… kan gak sengaja nabraknya juga… udah… ikhlasin aja yaa…sekarang wudhu dulu trus sholat.” Kata ibu.

Heu…. Betapa sedih saya sore itu. Perasaan tak tentu. Tercabik2 pilu. Saya harus bisa merelakannya pergi. :-(

Besoknya, di sekolah saya ketemu dengan Laswan,

“Bener kan katakuu… Mimi matiiii…..” ejek Laswan.

Tapi saya mencoba cuek dan tampil tabah. Tidak peduli perkataan Laswan. Tapi tak bisaaa.. dan yang seharusnya baris-berbaris sebelum masuk kelas berubah jadi suasana haru, karena saya menangis meringkuk di pundak salah satu teman saya di depan kelas, teringat Mimi. Semua seakan memandang iba kepada saya. Saat beberapa ada yang bertanya kepada teman saya,

“Ika kenapa?” dan dijawab dengan,

“Ayamnya mati.” Pastilah membuat mereka linglung.

Dan siangnya saya pulang ke rumah dengan menu makan siang ayam goreng. Saya curiga tingkat tinggi, dan sontak bertanya kepada ibu,

“ini Mimi ya???”

“Bukan, ibu tadi abis dari pasar beli ayam.” Jawab ibu. Dan saya percaya2 aja dan memakannya.

Lusanya, saya bermain ke rumah nenek, di mana di sana ada seorang anak tengil yang sering saya panggil Lik Wasis. Saya mencari Embah sambil menggendong Minut dan Mina. Tiba2 di dapur rumah nenek bertemu Lik Wasis, dan dia bilang,

“Mimi enak yah…”

“Mimi kan udah mati dibuang ke kali sama mbahkung!” teriak saya.

“Kata siapa? Lha wong yang nyembelih itu aku. Dan yang kamu makan kemarin itu Mimi. Mimi enyaaaak.. Ya, kan??”, Lik Wasis bilang dengan muka tengil.

Saya langsung pulang dan marah. Tapi saya gak konfirmasikan ke ibu. Takut kalo yang dibilang Wasis bener. Dan baru saya confirm beberapa taun kemudian. Dan jawabannya adalah, yang saya makan adalah Mimi. Mimi yang kepergiannya saya tangisi dan saya elu2kan ternyata saya sendiri yang makan. Ahhahahah

Akhirnya cukuplah Minut dan Mina menemani saya. Semakin sadar juga lah saya bahwa harusnya kita memperlakukan semuanya itu sama. Tidak perlu melebih2kan ke yang satu dan mem-figurankan yang lain. Tidak membeda2kan perlakuan ke yang ganteng dan yang kurang ganteng. Baik orang maupun hewan. Wkwkwk. Setiap ciptaan pasti punya keistimewaan tersendiri yang membuat dia bisa bertahan untuk menjalankan tugas yang diberikan Sang Pencipta :-)

Saya juga semakin mengenal Minut, dia sebenarnya baik juga kok. Nurut. Kalo dipanggil suka langsung dateng. Jadi idola banyak cewe juga. Si Mina juga. Jadi cewe pemberani tuh.. Suka ngajakin berantem ayam2 yang suka ngrebut makanan ayam lain. Bahkan Mina berani nglawan musang si Pemakan Bebi loh.. pemberani bangetlah pokoknya. Jeleknya dia sih, dia juga berani ama manusia. Manusia enak2 jalan eh tiba2 dipatukin tanpa alesan yang jelas. Kayaknya dia emang hobi berantem deh. Hobi matuk. Saya nih suka jadi korban penyaluran hobinya. Waktu itu tangan saya selalu penuh dengan bekas patukan. Pernah pas saya lagi ngomong di depan dia bibir saya dipatuk gt, jadi dower deh.. Kata ibu sih si Mina rada sinting.

Pernah ada kejadian yang cukup tidak enak bagi saya. …

bersambung…

Hati Saya Kayak Batu

Weekend adalah hari-hari yang asik buat jalan2. Seperti halnya kemaren, hari Minggu, saya hengot bareng temen2 maen saya menyusuri jalanan Kota Bandung. Maklum, Hari Minggu, jalanan pada macet gitu…

Karena macet, kami yang seharusnya berangkat bareng menggunakan dua kendaraan jadinya terpisah. Ya pengennya tetep bareng2 sih biar seru dan gak pada nyasar. Akhirnya kami (peserta hengot yang sekendaraan sama saya, red.) memutuskan untuk berhenti dan parkir di pinggir jalan dulu untuk menunggu temen yang lain.

Pada saat menuggu itu tiba2 ada seorang lelaki paruh baya yang berdiri di depan kendaraan kami. Awalnya kami pikir dia tukang parkir gadungan yang seakan2 berjasa markirin trus ujungnya minta upah ato calo angkot yang sok2an berjasa terhadap sopir angkot karena telah membantu untuk mencarikan penumpang. Makanya kita cuekin aja tuh orang.

Lama-kelamaan itu orang kok jadi deket2 ke kendaraan kami ya. Megang2 bemper. Tangannya diacung2kan. Dan ternyata dianya bawa tongkat. “Oh, kayaknya ini pengemis yang pura2 buta..” pikir saya. Gak tau pikir temen2 saya apa. Ya soalnya ini jalan rame banget. Masa orang buta asli mau ngemis di jalan kayak gini.

Trus lama-lama si lelaki itu malah megang2 kaca depan, Jalannya nabrak2 gitu. Tapi kalo emang dia pengemis, kok dia ga menengadahkan tangannya, cuman megang2 doang sambil menggumam sesuatu yang gak bisa saya mengerti. Dipegang2 terus itu badan mobil dari depan ke belakang. Sampe pada akhirnya dia muterin mobil dan berada pada sisi kanan kami. Saya jadi bingung, apa maunya orang ini yaa…

Lalu dari sisi kanan itu, si orang laki2 itu kembali ke depan kami. Dan kembali pula mengacung2kan tangan dan tongkatnya ke jalan. Dan yang lebih mengagetkan lagi si orang itu semakin menuju ke tengah jalan yang sedang rame2nya itu. Saya cuman bisa melihat dan menggumam, “duh…awas, Paak..”

Tiba2 ada sebuah angkot yang lewat melampuai kami dan lelaki aneh itu lalu berhenti di depan kami. Sang supir turun dari angkot dan merangkul si lelaki itu. Berbarengan dengan itu, seorang bapak2 bersama anaknya yang kira2 masih berumur 6 tahun juga menghampiri si lelaki. Terlihat jelas terjadi percakapan di antara mereka. Sepertinya menanyakan apa sebenarnya keinginan si lelaki itu. Akhirnya sang supir pun pergi dan si lelaki yang berada dalam rangkulan sang bapak2 yang menggandeng anaknya, tetap berdiri di pinggir jalan. Sambil memperhatikan kendaraan yang lewat. Sepertinya mereka sedang menunggu angkot jurusan tertentu yang akan lewat.

Mmm…

Saya malu. Si Lelaki hanyalah seorang lelaki buta yang ingin naik angkot jurusan tertentu karena ingin pergi ke suatu tempat. Tetapi, saya yang gak tau apa2 dengan kejamnya menjudge dia pak ogahlah, calo angkotlah, pengemis lah, sepertinya sempat terbesit juga dalam pikiran saya si lelaki adalah orang gila. Astaghfirullah..

Betapa rendahnya saya… Betapa jahatnya pikiran2 saya… Betapa bodohnya saya karena tidak menggunakan kesempatan itu untuk membantu Sang Buta tapi malah merendahkan dia…

Apa yang terjadi pada saya sehingga nurani saya benar2 terkunci rapat untuk bisa melihat dengan jernih? Sudah sangat tebalkah debu2 dosa yang menempel pada hati saya sehingga tidak dapat menerima cahaya2 sifat2 agung Pencipta saya yang salah duanya adalah kasih dan sayang?? Atau apakah ini tanda betapa lemahnya keimanan???

Astaghfirullah… Semoga Allah mengampuni saya.. Saya tobat… Saya ingin beriman dengan kapasitas yang sangat tinggi… Saya masih ada di jalan-Nya… Allahlah pelindung dan pemelihara saya.

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala (40:7)

Mina

Sebagian besar pembaca mungkin sudah sering mendengar nama “Mina” dari saya, entah itu gara-gara suka Y!M-an sama saya jadi suka liat nick saya yang ada embel2 “Mina”-nya ato yang suka make ekoun ai3 saya, pasti tuh kenal banget sama Mina, (baik itu ijin ato gak, bahkan ada yang gak kenal saya juga tapi ikut make, hahahhaha), ato juga udah sampe muntah2 gara2 keseringan saya curhatin tentang Mina. Hehhehe

Sebenarnya siapa sih Mina? Seberapa pentingkah kehadirannya di kehidupan saya?
Sebelum saya jelaskan tentang Mina, saya akan menceritakan dahulu mengenai sebuah sejarah yang fenomenal bagi saya agar lebih terasa penghayatan cerita tentang Mina. :-)

Kediri, 1993.

Saya hidup bahagia di sebuah keluarga yang sederhana yang tinggal di suatu desa yang terpencil. Saya masih mempunyai nenek buyut kala itu, saya sangat menyayangi beliau, sepertinya beliau juga menyayangi saya :-) . Saya memanggil beliau Embah.

Pada suatu hari, Embah menggendong dua ekor ayam kecil. Saya yang pada saat itu masih merasa biasa2 saja jika melihat ayam heran terhadap apa yang dilakukan Embah. Saya tanya kenapa itu ayam kok digendong. Jawab si Embah, mereka lagi sakit dan butuh perawatan khusus. Dan saya pun ikut membantu Embah merawat ayam itu dengan riang. Dan kami berdua menamai kedua ayam itu, Dini dan Dina. Mereka pun jadi akrab dengan saya. Mau saya pegang dan gendong2. Istilah jawanya Kuthuk ato Lulut.

Semakin lama Dini dan Dina tumbuh berkembang menjadi ayam yang sehat nan cantik-cantik. Sepertinya banyak ayam jago yang naksir mereka. Dan saat mereka sudah besar, Embah menjual mereka ke tukang beli ayam keliling, yang sering kami sebut Bakul Pitik. Saya nurut saja waktu itu, merasa hal itu adalah suatu kewajaran. Noheartfeeling lah..

Kediri, 1995.

Anak ayam milik ibu sakit. Di kakinya banyak hewan2 kecil berwarna merah yang bisa bikin gatal yang biasa dipanggil Tengu. Tiga anak ayam lumpuh. Akhirnya mereka diberi perawatan khusus, dikandangin sendiri, dirawat, dan diberi obat2an untuk mengusir tengu (minyak tanah, red.).

Setiap ada waktu luang saya menyempatkan diri untuk menjenguk dan memeberi makanan mereka. Saya jadi teringat Dina dan Dina. Beberapa hari berlalu, saya merasa dekat dengan mereka. Dan saya pun mulai memberi masing2 dari mereka nama, Minut, Mimi, dan Mina. Mereka pun jadi akrab dengan saya.
Setelah mereka sembuh, mereka dikembalikan kepada mama mereka. Walaupun mama mereka galak dan tukang patok, mereka masih akrab sama saya. Sering saya ajak main rumah2an, pasar2an, atau cuma dielus2 saja. Setiap pulang sekolah, mereka bertigalah yang saya cari. Apalagi setelah mereka sudah tidak bersama mama mereka lagi, alias disapih, kami menjadi semakin bebas bermain. Tidak harus berurusan dengan mama mereka yang tukag patok itu.

Persahabatan kami berlangsung cukup lama, sampai mereka dewasa, dan terliha perbedaan di antara mereka. Minut menjadi seekor ayam jago kuning yang gagah, Mimi ayam jago item-merah yang kuat, dan mina ayam betina blirik yang bersuara cempreng. Saat dewasa ini menjadi saat yang menyedihkan bagi saya, karena kata ibu, Minut, Mimi, Mina memang sudah ditugaskan untuk menjadi ayam yag bisa dimanfaatkan manusia. Minut dan Mimi disembelih dan dimakan rame2, sedangkan Mina diekspor ke rumah budhe, karena saat itu rumah budhe sedang mengalami krisis ayam. Mina sebagai betina diharapkan dapat memberikan keturunan ayam yang baik dan banyak untuk keluaarga budhe. :-)

Kediri, 1997.

Kesedihan saya belum juga hilang atas kepergian tiga orang sahabat saya itu. Akhirnya saya meminta ganti kepada ibu saya. Minta tiga ayam yang mirip Minut, Mimi, dan Mina. Ibu tidak menuruti permintaan saya, karena dipikir saya aneh. Atau sering disebut kenthuk. Saya inisiatif sendiri. Ngedeketin mama2 ayam yang sabar dan lagi punya bebi2 ayam kecil. Kali aja nemu yang cocok.

Saya sudah punya inceran. Ayam gembrot item ada titik2 putihnya banyak, saya biasa panggil dia Biyok, karena bebi2 dia yang kecil2 itu menggil dia, “Biyook! Biyok!”. Dia lagi ngemong beberapa bebi. Saya sering baik2in doi deh. Ngasih2 makanan gitu. Akhirnya Biyok beserta anak2nya ketagihan dengan kedatangan saya karena olweis bawa makanan buat dia. Kami pun jadi akrab.

Mulailah saya lancarkan misi. Mendekati bebi2. Hampir semuanya mau deket sama saya. Lupa saya berapa jumlahnya, antara 7-10 gitu lah.. Tapi kebetulan sekali yang paling deket dan suka caper2 ada tiga. “wah2.. sesuai rencana nih”, batin saya. Dan kebetulan juga pada masa itu lagi musim2nya musang2 merajalela. Mereka nyulik bebi2 apes buat disantap. Anak Biyok pun banyak yang menjadi korban. Dan hanya tiga terdekat dengan saya lah yang selamat.

Semakin besar ketiga anak Biyok itu, semakin terlihat perbedaan gendernya. Dan kebetulan lagi mereka berjenis laki2 dua ekor, perempuan satu ekor. Pas. :-D . Setelah Biyok menyapihnya, saya semakin bebas bermain dengan mereka, dan mulai menamai mereka Minut, Mimi, dan Mina lagi. Untuk mengenang sahabat saya sebelumnya. Minut tumbuh menjadi ayam jago ganteng merah, Mimi jago manis item-kuning, dan Mina betina hitam dengan muka merah tengil. Dan saya merasa wajah Mina ini mirip dengan wajah Mina sebelumnya, walopun warna bulunya beda. Inilah generasi Simalamoa.

Saya merasa lebih akrab dengan trio yang ini. Mereka lebih lincah. Dan saya pun tidak segan2 mengenalkan mereka kepada teman2 manusia saya. Teman2 manusia saya pun senang bermain bersama mereka. Kami (saya bersama teman manusia dan ayam) sering bermain bersama joget ayam, rumah2an dan pasar2an seperti biasa, cari ulat dan bayam untuk si ayam, coret2 muka ayam, dan masih banyak lagi.

Dan saya juga lebih nyaman curhat dengan trio ini. Saat melihat mata mereka, serasa mereka mengerti apa yang saya rasakan. Mereka tidak pernah memberikan nasehat atau bantuan materi atau pundak untuk menangis atau apalah yang sering diberikan seorang teman kepada teman yang sedang curhat, tetapi berada di antara mereka itu sudah cukup. Mereka bisa membuat bahagia dengan cara mereka sendiri. :-)

Sebenarnya dari trio itu saya paling sayang dengan Mimi. Karena menurut saya dia ayam yang paing baik. Paling manis, nurut, pintar, dan pengertian. Sedangkan Minut itu memang agak bodoh. Yaa..walopun ganteng tapi gak cerdas kurang gimanaa gitu. Dan Mina, sangat licik dan nakal. Pokonya Mimi is the best.

Pada suatu hari, saya berangkat ngaji fiqh sore di masjid, berangkat dari rumah sekitar setengah 4 sore dan bakal pulang jam 5 sore. Tiba2 di jalan dekat masjid ada seorang teman yang emang terkenal suka ngusilin saya, namanya Laswan, sedang naik sepeda bilang,

“Ayammu yang paling kamu sayangi mati. sapa itu namanya, Mimi. Iya Mimi mati. Abis kutabrak”

“Bo ong”, jawab saya cuek

“Beneran. Kalo gak percaya liat aja depan rumahmu pasti banyak bulunya berserakan”, kata Laswan

“Bo ong!!”, saya setengah percaya tuh.

”Liat aja ndiri.. Sukurin…Mimi mati..” Laswan tetap mengejek.

Akhirnya saya lari pulang. Biasanya saya pulang lewat kebun rumah Embah biar cepet, tapi saya waktu itu sengaja lewat jalan untuk memastikan kebenaran pernyataan Laswan. Dan ternyata MEMANG BANYAK BULU AYAM DI PINGGIR JALAN DEPAN RUMAH.

(bersambung…)

Cerita Cinta

Terserah mau menganggap ini fiktif belaka atau nyata yang pasti saya yakin di salah satu belahan bumi ini pernah terjadi kejadian semacam ini. Sebelumnya terima kasih telah bersedia membaca, semoga Anda sekalian mendapatkan hikmah dan petunjuk. :-)

Jadi begini, kami memiliki seorang kawan, sebut saja Bunga. Awal kami mengenal dia pada saat dia duduk di bangku kelas 3 SMA, sedangkan kami sudah duduk di bangku kuliah. Bunga adalah gadis yang sangat manis dan ceria. Sangat supel, mudah sekali akrab dengan orang baru. Baik perempuan maupun laki-laki. Sehingga dengan teman-teman kami yang lain pun dia bisa mengakrabkan diri juga.

Ternyata, keakraban itu berlanjut agak jauh, tetapi bukan dengan kami, tetapi dengan salah satu teman kami yang laki-laki. Sebut saja (…mmm apa ya…yang bisa dipasangin ma bunga… Kumbang. Eh jangan ding, kesannya gimanaa gitu. Kupu-kupu! Tapi…kupu-kupu gak pantas buat cowok… aapa yaa… Lebah terlalu bagus..wkwk…Brangbrangerang aja deh) Brangbrangerang (ribet banget ya?!).

Bunga menjadi sangat sering berkomunikasi dengan Brangbrangerang. Smsan. Telpon-telponan. Frensteran. (pada saat ini terjadi belum rame fesbuk, jadi ga ada yang namanya komenstatus2an, wall2an, tag2an poto, dkk). Entah apa saja yang mereka bicarakan atau ceritakan atau bahaskan (loh?), kami kurang tahu dan tidak perlu tahu. Yang jelas frekuensi komunikasi itu sangat sering. Tidak bisa kami sebutkan karena kami tidak mempunyai data statistik yang valid.

Setelah beberapa bulan, kami secara tidak sengaja diberi kesempatan untuk berbicara dengan Bunga yang sudah duduk di tingkat 1 sebuah perguruan tinggi yang berbeda dengan tempat kami kuliah. Kami awali dengan basa-basi menanyakan kabar kesehatan dia, kuliah dia, kampus dia, dan sebelum kami mempertanyakan apakah dia punya kucing atau tidak, kami langsung membelokkan pertanyaan tentang seorang laki-laki yang kabarnya sempat menjalin keakraban dengan Bunga yang tidak lain dan tidak bukan adalah teman kami sendiri, yaitu Brangbrangerang. (wew)

Dan yang mengejutkan jawabannya adalah Bunga tidak tau. Kami terkejut karena kami tidak tau maksut tidak tau itu apa. (ARGHHH… capek nulis formaaaaaaaaaalllll…… udah ah biasa ajaa..)

Jadi gini cuy, kata Bunga plus penjelasan sohibnya Bunga, si Brang2erang itu ya kayak tadi sering ngajak komunikasi dan itu ngobrolin hal2 yang yaaa…bisa dibilang bukan sekedar teman biasa. Perhatian gitu… Jadilah si Bunga ini seorang gadis manis yang sedang dimabuk kepayang. Walopun si Brang2erang nngak bilang suka ato bikin janji2 gombal tapi dengan frekuensi yang cukup sering dari suatu komunikasi yang penuh perhatian itu telah diartikan menjadi suatu chemistry yang sepeSIAL oleh Bunga.

Dan ternyata Bunga memang SIAL karena ga ada angin ga ada hujan tiba2 sing Brang2erang itu jadi ilang. Gak pernah nongol lagi namanya di inbox atopun call register si Bunga. Ga tau kalo di frenster, kayaknya sih juga kagak… soalnya Bunganya bilang ga tau lagi gimana itu si Brang2tut eh Brang2erang. Otomatis Bunga kaget kenapa bisa jadi kayak gini. Apa salah dia?? Apa dia salah?? Dia salah apa?? Salah dia apa?? (wew. Sudah2..)

Dia mo nuntut macem2 ke Brang2 (disingkat aja gini ya…gw bosen nulisnya. hhaha) tapi apa yang harus dituntut?? Ga ada ikatan apa2. Brang2 ga janji apa2. Bilang suka juga engga. Kalo kata temen sih, saat inilah saat di mana cewe di posisi yang lemah. (iya gitu?). Dan sepertinya si Bunga itu sediiiihhh banget. Mungkin rasanya kayak si tulang rusuknya ditindih ama batu 5 kilogram.

Yaa,,, kami hanya bisa menghibur dia dan menasehati agar dia sabar dan berdoa untuk dapet yang terbaik aja. Walopun kami sadar itu ndak cukup. Hehe.

Lalu..kami coba confirm juga ke Mas Brang2. Apa sih yang terjadi sebenarnya menurut Brang2?? Dan kami dapat jawaban yang mengejutkan lagi. Brang2 menjawab, “Loh…aku gak niat ngapa2in kok ke dia. Biasa aja” Hiyaaaaa…. Gak biasanya kayak gimana, cuuuuyyy…!! Yaa…agak pengen nimpuk pake sandal Swallow sih. (<– bukti kalo kami gak sadis, soalya nimpuk sama barang yang gak gitu bikin sakit. Apalagi sampe mampus.). gak nyadar si Brang2 kalo ada yang kelimpungan di salah satu tengah pulau sana.

Udahlah yaa,,, jadi kondisinya ternyata gini. Intinya salah paham aja kok. (gampang kali pun awak ngomong. wkwkwk). Ya kalo ditanya yang salah siapa, yaa semuanyaa.. termasuk yang kami..kenapa gak dari dulu sanggup menasehati hahahahaha..

Buat Bunga ma Brang2, ya mreka berdua tuh sama2 merasa asyik menjalin hubungan dan komunikasi dua insan (ato insane?) beda jenis yang cukup berlebihan. Memang enak sih kalo ngobrol beda jenis…cowo ma cewe. Apalagi sama yang beda spesies cewe ma kucing, ato cowo ma ayam, lebih seru lagi tuh. (junk). Kalo ngobrol cewe cowo mah biasanya lebih ngerasa terperhatikan,,,pengertian, bisa tukar pikiran karena pikiran cowo ma cewe beda. Ya kalo itu kenyamanan dan manfaat dalam ngobrol dipake hal2 yang baik, bermanfaat dan sesuai norma mah baguuss…dianjurkan malaah..

Tapii..kalo UUSC (Ujung-Ujungnya Sok2an Cinta) yaa…buat apa siih… Senengnya cuma sesaat… Kalo gak sesuai norma malah dosa. Apalagi kalo sampe mengotori hati, bisa luntur itu kepekaan hati, bisa buram kacamata kita untuk melihat makna kehidupan, bisa goyah itu keimanan, sampe ada yang bilang bisa bikin buta mata hati. Wah,,,jangan sampe dah.. Jangan sampe kebujuk rayuan setan. Nyesel dan nyesek nanti.

“Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu.” Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah.” Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” (Al-Anfal(8):48)

Apalagi kalo niatnya jahat, pengen dijadiin maenan ato latihan (wew.). yaa tunggu aja balesannya kalo emang niatnya gitu.

Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. (Al-Mu’min (40):40)

Kalo niat nyari jodoh mah jangan gitu lah caranya,,, Percaya lah sama Tuhan, prasangka baik, jodoh terbaik udah Dia persiapkan buat kita. Usahanya bukan dengan nyosorr gitu. Tapi, jadi orang baik biar dapet yang baik jugaa.. Trus pasrah aja lah pasti ada aja cara yang buat ketemu, tinggal kita mau ato kagak. :-)

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga) (An-Nur (24):26)

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin (An-Nur (24):3)

Ritual Ulang Tahunan

Akhir2 ini suka liat orang diceburin ke kolam Indonesa Tenggelam. Kebanyakan sih gara2 mereka ultah, trus dikerjain dengan cara diceburin. Entah sejak kapan mulai ritual ultah kayak gitu. Setau saya ya, ritual ultah tuh pake kue tart, ngundang temen2 trus nyanyi2 hepibresdetuyu rame2 gitu…trus tiup lilin, trus mek ewis. Atau kalo gak ya traktiran makan2 di kantin, warteg, atau tukang bakso gitu… Tapi sekarang kayaknnya ritual ultah tuh lebih murah ya. Tingal nyemplung kolam aja. Udah beres. Gak perlu ngluarin dana banyak2 bahkan gratis tis tis… tinggal siap2 aja baju ganti. Gitu doang. Temen2nya juga pada setuju kalo si orang-yang-lagi-ultah nyemplung. Buktinya, si temen ikut bantuin nyemplungin si orang-yang-lagi-ultah ke kolam kalo si doi masih malu2 buat nyemplung. Baik lah temen2 di ITB mah… gak ada jiwa ngeret temen buat nraktirin atau minta2 kue tart. :-D

Jadi inget dulu waktu SMA. Masa paling indah, kelas 2 SMA. Masa paling hepi2 hura2. Masa tanpa problema (cailah). Ya dulu saya dan temen2 se-geng (beuh..gak enak dibacanya. Ganti aja. Temen2 sepermainan), iya, saya dan temen2 sepermainan :roll: suka bikin kejutan buat temen yang lagi milad atau ultah. Kejutan adalah wujud rasa sayang dari kami2 kepada beliauw yang milad untuk membuat suatu kesan yang mendalam pada hari yang (mungkin saja) sepe sial, eh salah tulis, special buat sang objek. Ya mungkin tujuan lain dari bikin kejutan adalah, ADAKESEMPATANBUATNGERJAINORANG. Hahahahahaha

Ada beberapa cerita tentang kejutan ini yang masih mampu saya inget hingga saat ini. Yaitu kejutan pas miladnya si Ardani-cuk Setia. Kebetulan waktu itu otak saya masih memiliki viskositas yang cukup rendah, jadi masih memiliki daya yang tinggi untuk menghasilkan ide2 yang cukup kriminal.

Waktu itu, saya lah yang menjadi otak dari kebiadaban ini dibantu rekan2 saya yang lain sekitar 6-7 manusia. Jadi begini, Hari itu hari Selasa. Tanggal bla bla bla, milad Ardani. Ulangan Bahasa Indonesia. Guru Bahasa Indonesia kami bernama ibu Is. Guru yang sangat keren, sangat gaul, pengertian, de el el. Pokoknya mah asik banget orangnya. Nah dari data2 tersebut di atas, kayaknya gak ada salahnya kalo ngerjain Ardaninya pas ulangan aja, Bu Is pasti bisa diajak sekongkol.

Akhirnya, setelah disusun skenario pengerjainan, saya bersama rekan saya, Indro (sekarang berubah nama menjadi Indra, bintang iklan provider seluler 3 (THREE) telepon murah ke luar negeri yang bilang “SOPO??”. Indro…eh Indra… aku merindukan dirimu yang dulu… ) bertugas untuk melobi Bu Is sejam sebelum ulangan dimulai ke ruangan guru. Hehehe.. Bu Is emang keren, dengan sekejap beliau paham maksud kami, dan beliau bilang “Oke, tenang saja…”. Uuwwh.. asik bangeet..

Tinggal membuat siasat di kelasnya. Gak perlu sekelas tau skenarionya. Cuman 7 manusia tadi saja udah cukup. Yang lain biar ntar bisa menikmati indahnya pertunjukan ini. Hihihihi..
Ulangan pun dimulai. Durasi yang diberikan 2 jam pelajaran. Indro duduk paling belakang, di sebelah saya. Ardani duduk di satu baris di depan kami tapi rada serong ke kanan. Satu jam pertama, kelas pun hening. Hari ini Bu Is awas sekali dalam menjaga kelas ulangan ini. Setengah jam lagi masih tetep hening secara wajah Bu Is gak seramah biasanya. Sampai akhirnya saya berisyarat pada Indro. Indro pun mengiyakan. Dan permainan dimulai….

Indro dengan gerak-gerik agak berlebihan dalam ukuran detik2 ulangan harian berbisik memanggil : “Dan Dani…!! Dan..”

Ardani dengan gerak-gerik khawatir plus takut tapi gak enak sama temen menoleh sambil tetep nunduk: “apa..??”

Indro dengan gerak-gerik tetap berlebihan : “inih..” (sambil ngelempar kertas yang udah dilipet2 kecil tepat mengenai kaki Ardani dan jatuh ke lantai)

Tiba2 Bu Is berteriak marah, “INDRO!!! ARDANI!! Ngapain kalian??!! Sudah saya peringatkan dilarang mencontek!! Kenapa masih tetap saja!!” Sambil mendatangi Ardani dan mengambil lipatan kertas yang dilempar Indro.

“Setelah ulangan selesai kalian berdua maju ke depan kelas!!!”, lanjut Bu Is.

Saya sempet bingung, ini Bu Is marah beneran atau cuman akting? Kayak marah beneran… Sempet kaget waktu tadi teriak. Bentak marah gitu.. Tapi gak papalah, Ardani juga kayaknya udah down gitu. Sukses pertama…haha..

Dan setelah ulangan selesai dan semua kertas jawaban dikumpul, Bu Is pun memanggil Indro dan Ardani ke depan. Ardani dan Indro disuru berdiri di depan kelas. Dimarahi di depan kelas. Ardani pun menunduk sedih hampir nangis, tapi lain halnya dengan Indro yang nunduk tapi senyum2. Kagum lagi buat Bu Is, memarahi di depan kelas pun juga masih terlihat beneran. Kerennnnn.

Setelah selesai memarahi dan menasehati Bu Is pun bertanya ke Ardani, “Kamu ini, tau nggak ini hari apa??”

Ardani : “hari Selasa”

Bu Is : “Kamu nggak inget di hari ini ada apa??” (suara lebih pelan)

Ardani : (bingung..)

Bu Is : “Coba deh baca kertas dari Indro” “baca yang keras”

Ardani : “Selamat Ulang Tahun, Ardani… loh??” (dengan pelan dan terlihat masih ragu untuk ngapa2in)

Bu Is : “Iya, Selamat Ulang Tahun ya, anakku…” (tersenyum sambil meluk Dani…)

Satu kelas pun riuh rentak bertepuk tangan dan mengucapkan selamat ke Dani. Haaaaaaaaaaaaaaaaaa… Sukses keduaaa……

Dan akhirnya Dani pun nyadar kalo ini cuman sandiwara. Dani nangis…semoga waktu itu nangisnya nangis seneng. Hehe..

Dan Sukses ketiga yang kami dapatkan adalah, ritual konvensional ulang taun, yaitu, makan bakso Pak Dju gratis… huehehehe.. Sukses Besaaar… :-D .

Ide Gila (2)

Ini ide kedua saya pada tugas Ide gila seperti pada postingan sebelumnya :

Dewantika Kusuma P
13205204
Tugas Ide Gila

Judul :

Penerjemah bahasa manusia ke dalam bahasa hewan atau sebaliknya

Latar belakang :

Seringkali kita merasa ingin tau apa yang dimaksudkan kucing yang sedang mengeong-ngeong. Mungkin saja kita merasa risih dengan kambing yang mengembek-embek, serasa pengen tau apa maunya dan menurutinya lalu menyuruh mereka diam agar tidak mengganggu suasana. Tapi kita tidak bisa memahami kata-kata mereka, mungkin begitu juga sebaliknya.
Maka dibutuhkan suatu alat yang bisa mengartikan bahasa hewan kepada bahasa manusia dan atau sebaliknya.

Deskripsi :

Alat tersebut seperti semacam kamus digital tapi menggunakan suara yang telah terekam berjuta bahasa manusia dan bahasa hewan tertentu, misalnya kucing , dan bisa diset dari bahasa manusia ke kucing atau sebaliknya, bisa juga otomatis.
Untuk desain produk, bisa dalam bentuk mikrofon dan loudspeaker yang hanya akan kita pakai jika kita butuhkan untuk berbicara dengan hewan yang kita maksud, bisa juga portable dengan menggunakan baterai dan bisa dipasangkan pada tubuh hewan sehingga setiap hewan bersuara kita akan mendapatkan terjemahannya, tetapi volume suara tidak akan sekeras menggunakan loudspeaker.

Ide Gila (1)

Jumat lalu anak power dapet tugas matkul Perancangan buat bikin ide gila. Katanya apa pun itu pokoknya mah gila aja. Dan dikumpulin hari ini. Baru mulai mikir buat ngerjain tugas ini sih kemarin, biasa… detleners. Lagian kata Didi, cowok Padang yang tanggal lahirnya sama kayak saya tapi beda tahun,
“Mumpung malem Jumat, kali aja dapet wangsit”

Hah.

Saya mulai bingung harus bikin ide apaan. Akhirnya muncul beberapa ide. Ada empat ide kemaren. Salah satunya berikut ini :

Dewantika Kusuma P
13205204
Tugas Ide Gila

Judul :

Popok Ayam

Latar Belakang :

Ayam adalah binatang yang seringkali dipakai untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Pada umumnya ayam diternakkan dalam jumlah besar untuk menghasilkan daging dan telur. Tapi siapa tahu ternyata ayam juga cukup lucu untuk dijadikan binatang peliharaan, seperti halnya kucing dan anjing. Coba saja amati bentuk wajah yang lucu dan tubuh berkaki dua yang dipenuhi bulu-bulu indah, terlebih lagi ayam kampung, betapa cantik dan tampannya mereka. Sebenarnya ayam ataupun unggas-unggas yang lain bisa untuk dilatih menjadi hewan piaraan yang penurut. Lagipula saat ini banyak hewan-hewan yang tidak biasa dijadikan binatang piaraan, seperti ular, tupai, dan sebagainya. Walaupun tidak bisa dibiarkan bebas berkeliaran di rumah karena tidak punya naluri untuk membuang kotoran di tempat yang tepat allias sembarangan.
Padahal ayam, khususnya ayam kampung, lebih cenderung menjadi binatang enerjik, berkeliaran ke mana-mana, berlarian, mengais-ngais makanan sendiri, dan berendam di pasir. Oleh karena itu cukup dibutuhkan untuk membuat suatu popok ayam agar bisa mengijinkan ayam-ayam tersebut untuk tetap berkeliaran, bahkan di rumah.

Deskripsi :

- Sebenarnya konsep popok ayam ini sederhana, seperti halnya popok bayi sekali pakai biasa tetapi daya serap untuk material yang lebih padat lebih besar. Jadi dibutuhkan bahan popok tertentu dengan pori-pori yang lebih besar dan kotoran pun bisa diserap sampai kering sehingga ayam tetap dapat merasa nyaman dan tidak berusaha melepaskan popok yang dipakai karena faktor ketidaknyamanan.
- Bahan dan daya serap juga diperhitungkan berdasarkan lama pakai ayam dan jumlah material yang diserap. Misal, popok didesain untuk sehari pakai, maka diperhitungkan kondisi dalam sehari ayam normal membuang kotoran berapa kali selama sehari dengan berapa volume per keluaran. Sehingga bisa dicari bahan yang mana yang tepat dipakai pada kondisi tersebut.
- Masih bertujuan untuk kenyamanan, bentuk popok pun harus disesuaikan dengan bentuk tubuh bagian belakang ayam, ekor, dan letak kaki. Juga lebar popok yang harus minimalis, karena ayam sering membersihkan bulunya dengan paruhnya. Jika popok terlalu lebar, bulu-bulu yang seharusnya dibersihkan akan terhalangi popok.
- Bahan luar yang anti air, anti kotor, dan anti kuman membuat ayam tetap merasa bersih walaupun beraktivitas di tempat-tempat kotor yang gemar mereka kunjungi.

Laskar Pelangi, kapan aku menemuimu?

Seneng deh dngr crita tmen2 yg udh nntn LP :-)
Saya belum nonton.. :cry: Tp ikut ngantri tiket :mrgreen: .Emang blm rejekinya, jd keabisan deh tiket yg jam inceran sy.hehe.. Untung ada temen yg nitip (kancrid dkk) di jam yg lain dan dapet. Jd gak sakit2 ati bgt.haha.
Oia, pngumuman, bkn sy yg ngantriin tiket bwt EL’05. Jarwo ma Fela kok..cm brg sm sy aja.hehe..Jd, g perlu minta maap segitunya deh…
Smg film ini bisa menambh hkmah di Ramadan ini.

Sebenernya sayaa..

Macem2 jawaban yang muncul dari orang2 jika ditanya saya ini kayak gimana.

Ada yang bilang saya baik, alim, pendiem, feminim, manis, kalem, anggun, lembut, penyayang, keibuan, rajin, rapi, classy. Ada yang bilang tengil, gila, jahil, ceriwis, freak, cowok banget, preman, jahat, bengis, kasar, keras kepala, kekanak2an, bandel, pemalas, jorok. Ada yang bilang kesan pertama sama udah kenal deket beda bangeet. Ada yang bilang, “kok aneh sih?”. Ada yang bilang membingungkan. Ada yang bilang munafik. Ada yang bila saya punya kepribadian ganda, bahkan temen saya yang kuliah di psikologi bilang gak cuman ganda, lebih dari tiga kepribadian -_-. Ada yang bilang, “ya..itu sisi lain dari kamu” (sama kayak kepribadian ganda ya?) :evil: . Dan … continue reading this entry.

Pacar saya benar2 meninggal :(

Beberapa hari yang lalu ibu sms,

Ik, Sukro udah 3 hari gak pulang, ikhlaskan yaa. Barangkali dia ikut jejak Bu Nawi yang Jumat kemarin mati.

Bisa dilihat di atas, bahwa pesan utama yang ibu ingin sampaikan adalah Sukro kayaknya mati. Taoi saya lempeng karena terkesan ‘kayaknya’. yang saya kagetkan malah Bu Nawi-nya. Guru tajwid saya di madrasah, yang masih lumayan muda, beranak satu dan masih cantik2 aja itu sudah meninggal. Akhirnya yang saya bales sms

Saya : “Hah?! Bu Nawi mati? yang istri pak komar ayam potong itu? Kenapa??”
Ibu : “Takdir.” -_-
Saya : “Iyaaa tau, tapi sebelum mati itu sakit ato kecelakaan ato apa?”
Ibu : “Sakit kuning, paru2, liver, sarap, jantung, padahal kamisnya aku jenguk kesana, kurus banget, eh jumatnya mati”
Saya : “Si sukro cuman maen tuh. Bentar lagi juga pulang.”
Ibu : “Udah tiga hari dia lapar pasti pulang, kalo gak kecemplung sumur, diracun orang, atau ditembak orang. Ikhlasin yaa..” (SADISSS)

Heuu….

Setelah menganalisis dengan beberapa teman, pendapat2 saya tentang hilangnya Sukrokusayang hampir semua dibilang salah. Harapan2 Sukro masih hidup mash sangat tipis. Berikut pendapat saya yang gagal :

1. Sukro nyasar, lupa jalan pulang, sekarang masih nnumpang di rumah syapa gitu. Gagal karena, kucing gak akan nyasar kalo maen.
2. Sukro kecantol cewe laen, trus menikah dan hidup di sana. Gagal karena, kucing pasti pulang ke rumah asal karena lebih nyaman makan dan tidur di sana.
3. Ada yang ngliat ketampanan Sukro akhirnya dibawa pulang biar jadi bapak anak2 kucingnya dan sementara tinggal di rumah pengliat. Gagal karena tidak masuk akal.
4. Sukro terjebak di suatu tempat dan gak bisa keluar. Bener juga, tapi kalo kelamaan pasti mati. Hwaaa…

Pokoknya pendapat2 yang mungkin tuh yang serem2, intinya Sukro mati aja. Huh!

Dan dua hari kemudian ibu saya tanya lagi di telpon.

Saya : “Sukro gimana? Tetep gak pulang?”
Ibu : “Nggak e ik… Gimana? Gak papa ya? Yang ikhlas yaa…”
Saya : “Hahaha..” (ketawa karena gila kekasih tiada)

Dan tadi pagi abis sahur ibu telpon lagi, sekitar semingguan Sukro ilang.

Saya : “Gimana? Sukro gak pulang?”
Ibu : “Belum.. Udah lah… Udah mati.”
Saya : “Mari kita nunggu anak Paijah gedhe…” (Paijah kucing emak saya yang indigo. haha)
Ibu : “Gak mau ah! Mau nyari yang ganteng aja. Anaknya paijah item2 kayak curut.”
Saya : “Hoohoho.. Kita tunggu saja pasti datang pengganti Sukro.”

Yang jelas, Sukro udah mati. Saya Ridha. Memang dia bukan jodoh saya. Mari tunggu kekasih baru. Masih mau kucing atau ……??? Hahaha.

[Kayaknya saya dari tadi nulis hal gak penting banget deh... -_-]

« Tulisan sebelumnya