It's not a Fairy Tale...

Mina | Jun 18th 2009

Sebagian besar pembaca mungkin sudah sering mendengar nama “Mina” dari saya, entah itu gara-gara suka Y!M-an sama saya jadi suka liat nick saya yang ada embel2 “Mina”-nya ato yang suka make ekoun ai3 saya, pasti tuh kenal banget sama Mina, (baik itu ijin ato gak, bahkan ada yang gak kenal saya juga tapi ikut make, hahahhaha), ato juga udah sampe muntah2 gara2 keseringan saya curhatin tentang Mina. Hehhehe

Sebenarnya siapa sih Mina? Seberapa pentingkah kehadirannya di kehidupan saya?
Sebelum saya jelaskan tentang Mina, saya akan menceritakan dahulu mengenai sebuah sejarah yang fenomenal bagi saya agar lebih terasa penghayatan cerita tentang Mina. :-)

Kediri, 1993.

Saya hidup bahagia di sebuah keluarga yang sederhana yang tinggal di suatu desa yang terpencil. Saya masih mempunyai nenek buyut kala itu, saya sangat menyayangi beliau, sepertinya beliau juga menyayangi saya :-) . Saya memanggil beliau Embah.

Pada suatu hari, Embah menggendong dua ekor ayam kecil. Saya yang pada saat itu masih merasa biasa2 saja jika melihat ayam heran terhadap apa yang dilakukan Embah. Saya tanya kenapa itu ayam kok digendong. Jawab si Embah, mereka lagi sakit dan butuh perawatan khusus. Dan saya pun ikut membantu Embah merawat ayam itu dengan riang. Dan kami berdua menamai kedua ayam itu, Dini dan Dina. Mereka pun jadi akrab dengan saya. Mau saya pegang dan gendong2. Istilah jawanya Kuthuk ato Lulut.

Semakin lama Dini dan Dina tumbuh berkembang menjadi ayam yang sehat nan cantik-cantik. Sepertinya banyak ayam jago yang naksir mereka. Dan saat mereka sudah besar, Embah menjual mereka ke tukang beli ayam keliling, yang sering kami sebut Bakul Pitik. Saya nurut saja waktu itu, merasa hal itu adalah suatu kewajaran. Noheartfeeling lah..

Kediri, 1995.

Anak ayam milik ibu sakit. Di kakinya banyak hewan2 kecil berwarna merah yang bisa bikin gatal yang biasa dipanggil Tengu. Tiga anak ayam lumpuh. Akhirnya mereka diberi perawatan khusus, dikandangin sendiri, dirawat, dan diberi obat2an untuk mengusir tengu (minyak tanah, red.).

Setiap ada waktu luang saya menyempatkan diri untuk menjenguk dan memeberi makanan mereka. Saya jadi teringat Dina dan Dina. Beberapa hari berlalu, saya merasa dekat dengan mereka. Dan saya pun mulai memberi masing2 dari mereka nama, Minut, Mimi, dan Mina. Mereka pun jadi akrab dengan saya.
Setelah mereka sembuh, mereka dikembalikan kepada mama mereka. Walaupun mama mereka galak dan tukang patok, mereka masih akrab sama saya. Sering saya ajak main rumah2an, pasar2an, atau cuma dielus2 saja. Setiap pulang sekolah, mereka bertigalah yang saya cari. Apalagi setelah mereka sudah tidak bersama mama mereka lagi, alias disapih, kami menjadi semakin bebas bermain. Tidak harus berurusan dengan mama mereka yang tukag patok itu.

Persahabatan kami berlangsung cukup lama, sampai mereka dewasa, dan terliha perbedaan di antara mereka. Minut menjadi seekor ayam jago kuning yang gagah, Mimi ayam jago item-merah yang kuat, dan mina ayam betina blirik yang bersuara cempreng. Saat dewasa ini menjadi saat yang menyedihkan bagi saya, karena kata ibu, Minut, Mimi, Mina memang sudah ditugaskan untuk menjadi ayam yag bisa dimanfaatkan manusia. Minut dan Mimi disembelih dan dimakan rame2, sedangkan Mina diekspor ke rumah budhe, karena saat itu rumah budhe sedang mengalami krisis ayam. Mina sebagai betina diharapkan dapat memberikan keturunan ayam yang baik dan banyak untuk keluaarga budhe. :-)

Kediri, 1997.

Kesedihan saya belum juga hilang atas kepergian tiga orang sahabat saya itu. Akhirnya saya meminta ganti kepada ibu saya. Minta tiga ayam yang mirip Minut, Mimi, dan Mina. Ibu tidak menuruti permintaan saya, karena dipikir saya aneh. Atau sering disebut kenthuk. Saya inisiatif sendiri. Ngedeketin mama2 ayam yang sabar dan lagi punya bebi2 ayam kecil. Kali aja nemu yang cocok.

Saya sudah punya inceran. Ayam gembrot item ada titik2 putihnya banyak, saya biasa panggil dia Biyok, karena bebi2 dia yang kecil2 itu menggil dia, “Biyook! Biyok!”. Dia lagi ngemong beberapa bebi. Saya sering baik2in doi deh. Ngasih2 makanan gitu. Akhirnya Biyok beserta anak2nya ketagihan dengan kedatangan saya karena olweis bawa makanan buat dia. Kami pun jadi akrab.

Mulailah saya lancarkan misi. Mendekati bebi2. Hampir semuanya mau deket sama saya. Lupa saya berapa jumlahnya, antara 7-10 gitu lah.. Tapi kebetulan sekali yang paling deket dan suka caper2 ada tiga. “wah2.. sesuai rencana nih”, batin saya. Dan kebetulan juga pada masa itu lagi musim2nya musang2 merajalela. Mereka nyulik bebi2 apes buat disantap. Anak Biyok pun banyak yang menjadi korban. Dan hanya tiga terdekat dengan saya lah yang selamat.

Semakin besar ketiga anak Biyok itu, semakin terlihat perbedaan gendernya. Dan kebetulan lagi mereka berjenis laki2 dua ekor, perempuan satu ekor. Pas. :-D . Setelah Biyok menyapihnya, saya semakin bebas bermain dengan mereka, dan mulai menamai mereka Minut, Mimi, dan Mina lagi. Untuk mengenang sahabat saya sebelumnya. Minut tumbuh menjadi ayam jago ganteng merah, Mimi jago manis item-kuning, dan Mina betina hitam dengan muka merah tengil. Dan saya merasa wajah Mina ini mirip dengan wajah Mina sebelumnya, walopun warna bulunya beda. Inilah generasi Simalamoa.

Saya merasa lebih akrab dengan trio yang ini. Mereka lebih lincah. Dan saya pun tidak segan2 mengenalkan mereka kepada teman2 manusia saya. Teman2 manusia saya pun senang bermain bersama mereka. Kami (saya bersama teman manusia dan ayam) sering bermain bersama joget ayam, rumah2an dan pasar2an seperti biasa, cari ulat dan bayam untuk si ayam, coret2 muka ayam, dan masih banyak lagi.

Dan saya juga lebih nyaman curhat dengan trio ini. Saat melihat mata mereka, serasa mereka mengerti apa yang saya rasakan. Mereka tidak pernah memberikan nasehat atau bantuan materi atau pundak untuk menangis atau apalah yang sering diberikan seorang teman kepada teman yang sedang curhat, tetapi berada di antara mereka itu sudah cukup. Mereka bisa membuat bahagia dengan cara mereka sendiri. :-)

Sebenarnya dari trio itu saya paling sayang dengan Mimi. Karena menurut saya dia ayam yang paing baik. Paling manis, nurut, pintar, dan pengertian. Sedangkan Minut itu memang agak bodoh. Yaa..walopun ganteng tapi gak cerdas kurang gimanaa gitu. Dan Mina, sangat licik dan nakal. Pokonya Mimi is the best.

Pada suatu hari, saya berangkat ngaji fiqh sore di masjid, berangkat dari rumah sekitar setengah 4 sore dan bakal pulang jam 5 sore. Tiba2 di jalan dekat masjid ada seorang teman yang emang terkenal suka ngusilin saya, namanya Laswan, sedang naik sepeda bilang,

“Ayammu yang paling kamu sayangi mati. sapa itu namanya, Mimi. Iya Mimi mati. Abis kutabrak”

“Bo ong”, jawab saya cuek

“Beneran. Kalo gak percaya liat aja depan rumahmu pasti banyak bulunya berserakan”, kata Laswan

“Bo ong!!”, saya setengah percaya tuh.

”Liat aja ndiri.. Sukurin…Mimi mati..” Laswan tetap mengejek.

Akhirnya saya lari pulang. Biasanya saya pulang lewat kebun rumah Embah biar cepet, tapi saya waktu itu sengaja lewat jalan untuk memastikan kebenaran pernyataan Laswan. Dan ternyata MEMANG BANYAK BULU AYAM DI PINGGIR JALAN DEPAN RUMAH.

(bersambung…)


& Komentar »

  1. rikues sejarah sukro juga :P

    Komentar oleh aisar — 19 Juni 2009 @ 3:01 am

  2. @aisar : ah, ini udah dibahas di fb.
    blm ada plan buat nulis yang sukro, soale critanya cuman dikit. cuman menang ganteng doang dia..

    Komentar oleh dewak — 19 Juni 2009 @ 6:46 pm

  3. geblek…

    tapi top lah, menarik sekali.

    Komentar oleh wakakakakak... — 21 Juni 2009 @ 2:33 am


Ada yang ingin disampaikan?RSS Komentar URI Lacak Balik

    “Everyone is talented, original, and has something important to say”

    Blog Stats

    • 9,226 hits